Archive for the ‘Artikel’ Category

Jadwal Imsakiyah 1433 Kota Surabaya 2012

jadwal imsakiyah 1433 surabaya 2012

jadwal imsakiyah 1433 surabaya 2012

Iklan

Siti Aisyah RA, menikah di usia 19 tahun ?

Kita selama ini mendapatkan informasi bahwa Rasulullah SAW menikah dengan Aisyah RA ketika berumur 6 tahun dan berumah tangga ketika berusia 9 tahun.

apa benar berita itu?

Kalau dipikir… kenapa informasi itu begitu mengakar kuat dalam sejarah Islam? Padahal secara logis, umur 9 tahun sudah berumah tangga? sepertinya untuk membayangkannya sekalipun tidak bisa.


Aisyah RA menikah di usia 19 tahun

Nah, untuk menjawab pertanyaan benar atau tidak masalah ini, melalui studi kritis terhadap hadits, Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi menemukan informasi baru. Dalam bukunya Umur Aesyah, ternyata ada berita baru yang lebih masuk akal dan bisa diterima logika. Rasulullah SAW berumah tangga dengan Aisyah RA saat Aisyah RA berusia 19 tahun.

Jadi, bagaimana cerita runtutnya?!

Maulana Habibur Rahman Siddiqui Al-Kandahlawi adalah seorang ahli hadits dari India. Ia lahir tahun 1924 M, putera ulama hadits terkenal Mufti Isyfaq Rahman. Ayahnya ini pernah jadi mufti besar Bhopal India.

Adapun yang menjadi dasar kesimpulan tersebut adalah riwayat yang menunjukkan beda usia Aisyah RA dengan kakaknya Asma, sekitar 10 tahun. Riwayat ini ada di kitab Siyar A’lamal Nubala karangan Al Zahabi. Sedangkan Asma meninggal di usia 100 tahun pada tahun 73 H (diriwayatkan Ibnu Kathir, Ibnu Hajar dan Al Zahabi). Artinya, Asma lahir tahun 27 Sebelum Hijrah dan Aisyah lahir tahun 17 Sebelum Hijrah.

Sementara itu, para ahli sejarah sepakat bahwa pernikahan Rasulullah SAW dengan Aisyah RA, terjadi pada sekitar tahun 2 H. Berarti Aisyah RA berumah tangga dengan Rasulullah SAW pada usia 19 tahun.

Mudah-mudahan dengan berita ini, tidak ada lagi berita-berita miring yang dialamatkan kepada Rasulullah SAW atas pernikahannya dengan Siti Aisyah. Kalau umur 19 tahun di masa itu, sepertinya sudah layak dianggap dewasa. Secara emosional dan psikologis, umur 19 tahun juga sudah bukan umur anak-anak lagi.

Catatan : Sebagai tambahan dalil…

Siti Aisyah Ra. berkata :

“Saya seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan (Sahih Bukhari, kitabu’l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa’l-sa`atu adha’ wa amarr)…

Untuk dipahami, gadis muda (jariah), adalah mereka yang telah berusia antara 6-13 tahun.

Jika Surat al Qamar, diturunkan pada tahun ke 8 (delapan) sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), berarti usia Aisyah ra. saat menikah antara 16-23 tahun

Syekh Muhammad Sayyid At-Thanthawy berpendapat, Surat al Qamar diturunkan pada tahun ke 5 (lima) sebelum hijriah.  Jikapun pendapat ini, kita jadikan patokan (dasar), maka akan diperoleh keterangan  usia Aisyah ra. saat beliau menikah, antara 13-20 tahun

Qiroah – Ar-rum:30

NASEHAT UNTUK PARA ISTRI

AGAR ANDA BAHAGIA DENGAN SUAMI ANDA

1.   Jangan membiarkan suami anda memandang dalam keadaan anda tidak menggembirakannya. Wanita yang paling baik adalah wanita yang selalu membuat suaminya bahagia.

2.   Hendaklah senyum itu senatiasa menghiasi bibirmu setiap anda dipandang oleh sang suami.

3.   Perbanyaklah mencan keridhan suami dengan mentaatinya, sejauh mana ketaatan anda kepada suami, sejauh itu pulalah dia merasakan cintamu kepadanya dan dia akan segera menuju keridhaanmu.

4.   Pilihlah waktu yang tepat untuk meluruskan kesalahan suami.

5.   Jadilah anda orang yang lapang dada, janganlah sekali-kali menyebut-nyebut kekurangan suami anda kepada orang lain.

Baca lebih lanjut

NASEHAT UNTUK PARA SUAMI

52 Kiat Agar Suami Disayang Isteri

1.     Berhiaslah untuk Isteri anda sebagaimana anda senang apabila ia berhias untuk anda.

2.     Merayu Isteri dan mencandainya.

3.     Mempergaulinya dengan lemah lembut dan kasih sayang.

4.     Penuh kesenangannya untuk berbicara dan bercakap­cakap (bercengkerama).

5.     Panggillah Isteri dengan nama kesukaannya.

Baca lebih lanjut

TUGAS POKOK PENYULUH AGAMA ISLAM FUNGSIONAL

PEDOMAN KENAIKAN PANGKAT (DARI III/a – III/c)

1. Mengumpulkan data identifikasi potensi wilayah /kelompok sasaran

Kegiatannya menghimpun atau mengumpulkan data oleh penyuluh agama dengan menggunakan instrument pengumpulan data, formulir-formulir, blanko-blanko isian dan daftar pertanyaan yang berisi semua bahan berupa data/informasi tentang data potensi wilayah/kelompok yang berkaitan dengan data pembinaan kehidupan beragama dan pembangunan yang ada dalam suatu wilayah atau kelompok sasaran.

Kegiatan ini dilakukan minimal 1 tahun 6 kali atau setiap 2 bulan sekali data tersebut diperbaiki. Volume 6 kali per tahun apabila seorang penyuluh ditugaskan berdasarkan berdasarkan wilayah binaan, tetapi bila seorang penyuluh ditugaskan berdasarkan kelompok binaan maka volume pengumpulan data didasarkan atas jumlah kelompok binaan.

Baca lebih lanjut

Problem Penyuluhan Agama

Pengantar

Departemen Agama, khususnya Kanwil Depag DIY sebagai aparatur pemerintah memiliki posisi dan tugas menjadi fasilitator dalam membangun iklim keagamaan yang kondusif bagi perkembangan masyarakat yang dinamis, progresif, toleran dan damai di atas dasar nilai keagamaan dan kekayaan budaya yang berkeadaban (Sudijono: 2000). Untuk menjabarkan tugas itu, maka Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1 Tahun 2001 telah menggariskan fungsi Departemen Agama meliputi empat masalah pokok, yaitu : Pertama, memperlancar pelaksanaan pembangunan di bidang keagamaan. Kedua, membina dan mengkoordinasikan pelaksanaan tugas serta administrasi departemen. Ketiga, melaksanakan penelitian dan pengembangan terapan pendidikan dan pelatihan tertentu dalam rangka mendukung kebijakan di bidang keagamaan. Keempat, melaksanakan pengawasan fungsional.

Dalam usaha mengimplementasikan fungsi di atas, maka penyuluhan agama Islam merupakan salah satu bentuk satuan kegiatan yang memiliki nilai strategis, khususnya dalam menjalankan fungsi memperlancar pelaksanaan pembangunan di bidang keagamaan. Kemudian, untuk menjalankan penyuluhan ini, pemerintah telah melakukan reposisi kedudukan dan fungsi penyuluh, berdasarkan Keputusan Presiden No. 87 Tahun 1999, yaitu yang menempatkan penyuluh Dalam Keppres itu disebutkan bahwa Rumpun Keagamaan adalah rumpun jabatan fungsional Pegawai Negeri Sipil yang tugasnya berkaitan dengan penelitian, peningkatan atau pengembangan konsep, teori, dan metode operasional serta pelaksanaan kegiatan teknis yang berhubungan dengan pembinaan rohani dan moral masyarakat sesuai dengan agama yang dianutnya. Keppres ini kemudian dijabarkan dalam Keputusan Bersama Meteri Agama dan Kepala Badan Kepegawaian Negara no: 574 tahun 1999 dan no: 178 Tahun 1999 tentang petunjuk pelaksanaan jabatan fungsional Penyuluh Agama dan Angka Kreditnya.

Jadi, berdasarkan Keppres No: 87/1999 ini, berarti bahwa Penyuluh Agama Islam secara de-jure memiliki kedudukan yang sama dengan jabatan fungsional lainnya, seperti; peneliti, dosen/guru, widyaiswara, dokter, pengawas sekolah, akuntan, pustakawan, penyuluh KB, penyuluh pertanian dan sebagainya (Departemen Agama RI Sekretariat Jenderal Biro Kepegawaian: 1999).

Namun demikian, tidak dipungkiri bahwa secara de facto, Penyuluh Agama Islam yang menjadi pelaksana teknis program penyuluhan di masyarakat, sejauh ini masih dihadapkan pada sejumlah problem, sebagaimana sejumlah problem yang terjadi dalam program penyuluhan. Tulisan ini baru sebatas akan mengidentifikai problem penyuluhan dan sekilas melihat tantangan PAI ke depan.

Identifikasi Problem Penyuluhan

Reposisi penyuluh sampai sekarang telah berjalan lima tahun. Dalam proses perjalanan sebuah perbaikan, tentu waktu lima tahun ini bisa dibilang masih dalam tahap proses penataan stake holder penyuluhan. Tanpa menafikan usaha-usaha penataan kelembagaan dari berbagai stake holder yang ada, kita melihat ada empat persoalan utama yang masih dihadapi dalam implementasi penyuluhan, yaitu: permasalahan struktural, manajerial, sumber daya penyuluh dan kultural.

Baca lebih lanjut