Kinerja Harus Berbasis Output dan Outcame Oriented

Menteri Agama, Suryadharma Ali, menegaskan bahwa jajaran Kementerian Agama harus membangun budaya output dan outcame oriented dalam menjalankan kinerjanya, bukan asal ada kerjaan. Semua program dijalankan melalui perencanaan dan pelaksanaan yang terukur, sehingga diperoleh target maksimal. Hal ini tak lain agar masyarakat dapat merasakan hasil yang maksimal pembinaan keagamaan, sehingga umat dapat terbina secara baik dari berbagai aspek.

Hal ini ditegaskan oleh Menag dalam pembukaan Rapat Kerja Pelaksanaan Tugas Pusat dan Daerah Ditjen Bimas Islam Tahun 2011, bertempat di Aula Kementerian Agama, Jl. MH Thamrin, Jakarta. Hadir dalam kesempatan itu para pejabat eselon I dan II, Ibu-ibu Dharma Wanita Kemenag, para Kakanwil seluruh Indonesia dan para undangan.

Dalam laporannya, Dirjen Bimas Islam, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan bahwa pelaksanaan raker tahun ini bertepatan dengan bermunculannya permasalahan umat yang sangat rumit. Berbagai masalah tersebut di antaranya tumbuhnya radikalisme dan ekstrimisme, merebaknya nikah sirri, meningkatnya angka perceraian, urbanisasi dai, dan aliran sempalan.

Nasaruddin mengungkapkan, keberhasilan Ditjen Bimas Islam tidak terletak pada daya serap anggaran belaka, melainkan sejauhmana kedekatan umat dan agama. ”Jika umat dan agama semakin dekat, itulah indikator keberhasilan Bimas Islam”, ujarnya.

Dalam menghadapi berbagai masalah tersebut, Nasaruddin menegaskan, Ditjen Bimas Islam telah merancang berbagai program penanganan dari pusat hingga daerah. Menurutnya, langkah-langkah tersebut tercermin dalam program sadar halal, gerakan magrib mengaji, dan lain-lain.

Dalam kesempatan yang sama, Menag menyoroti kemunculan aliran sempalan sebagai akibat minimnya informasi yang dibutuhkan masyarakat, sehingga mereka mencari informasi dari pihak-pihak yang tidak kapabel. ”Kesalahan kita adalah, belum mampu menangkap kebutuhan masyarakat akan perlunya informasi tentang agama yang benar. Jika sudah demikian, maka akan sangat sulit mengembalikan umat kepada pemahaman yang benar.”ujarnya.

Menanggapi isu-isu yang saat ini bermunculan, Menag memberikan instruksi kepada seluruh jajaran Bimas Islam dari pusat hingga daerah, untuk meningkatkan kinerjanya dengan memberikan perhatian serius dalam pelayanan kepada masyarakat. Menag sangat berharap, Bimas Islam dapat memberikan solusi tepat penanganan permasalahan keagamaan ini, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat kepada masyarakat dapat meningkat kembali.

Dalam kesempatan itu, Menag meresmikan pencanangan gerakan sadar halal. Gerakan sadar halal merupakan gerakan untuk membangun kesadaran umat akan pentingnya mengkonsumsi makanan yang halal dan sehat.

Rapat kerja ini akan berlangsung dari tanggal 14-16 Maret bertempat di Hotel Aston Marina Jakarta. Total keseluruhan peserta berjumlah 170 orang, terdiri dari pejabat eselon III Ditjen Bimas Islam, Kakanwil Kemenag, para Kabid Penais, Urais dan Hazama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: